Oleh Aris Tama, Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA)
Perekonomian Indonesia saat ini menampilkan wajah yang tidak sepenuhnya sejalan. Sejumlah indikator makro menunjukkan stabilitas pertumbuhan ekonomi terjaga dan inflasi relatif terkendali.
Namun pada saat yang sama, tekanan ekonomi masih dirasakan luas di tingkat rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Daya beli belum sepenuhnya pulih, biaya hidup meningkat, dan UMKM menghadapi keterbatasan akses pasar serta pembiayaan. Ketimpangan pun kian terasa dalam keseharian masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, berbagai inisiatif ekonomi berbasis komunitas kembali tumbuh. Koperasi, usaha bersama, dan model bisnis berjejaring menjadi pilihan untuk bertahan. Akan tetapi, tidak sedikit praktik ekonomi yang justru memperlemah kepercayaan.
Relasi usaha menjadi kian transaksional, solidaritas menipis, dan janji peningkatan kesejahteraan sering tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan ekonomi yang lebih moderat dan realistis.
Spirit–Sociopreneur Networking dapat dibaca sebagai salah satu alternatifnya.
Pendekatan ini tidak menjanjikan hasil instan, melainkan berangkat dari pemahaman bahwa ketahanan ekonomi dibangun melalui penguatan komunitas, nilai bersama, dan orientasi jangka panjang.
Berbeda dari logika pasar yang menempatkan individu sebagai pusat kompetisi, pendekatan ini bertumpu pada komunitas sosial dan spiritual yang telah lama menjadi penyangga masyarakat Indonesia.
Organisasi keagamaan, pesantren, dan jaringan jamaah memiliki modal kepercayaan yang relatif kuat. Di tengah keterbatasan perlindungan sosial negara dan volatilitas pasar, struktur komunitas semacam ini berperan penting dalam menjaga ketahanan sosial-ekonomi.
Spirit dalam kerangka ini tidak dimaknai secara simbolik, melainkan sebagai seperangkat nilai yang membimbing praktik ekonomi. Amanah, keadilan, keberpihakan pada kelompok rentan, serta etika pelayanan menjadi pijakan.
Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjaga arah moral usaha, tetapi juga membangun kepercayaan publik—modal sosial yang semakin langka dalam ekonomi modern.
Di atas fondasi nilai tersebut, sociopreneurship berfungsi sebagai sarana pemberdayaan. Usaha dikembangkan untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat, seperti pangan terjangkau, layanan kesehatan, pendidikan, dan pertanian. Keuntungan tetap diperlukan, tetapi diposisikan sebagai prasyarat keberlanjutan, bukan tujuan akhir.
Jejaring dalam Spirit–Sociopreneur Networking juga perlu dibangun secara hati-hati. Jejaring tidak semata bertujuan memperluas skala, melainkan membentuk ekosistem relasi yang sehat dan saling percaya. Yang direplikasi bukan hanya produk, tetapi juga etika usaha. Dalam situasi ekonomi yang rapuh, prinsip “nilai mendahului skala” menjadi semakin relevan.
Di tengah tekanan ekonomi global, krisis ekologi, dan ketimpangan yang belum sepenuhnya teratasi, pendekatan ini menawarkan optimisme yang rasional: upaya membangun ekonomi secara bertahap, berakar pada komunitas, dan berorientasi pada keadilan sosial.(*)












