Pergaulan sebagai wartawan di media SKH Radar Kotabumi dimulai sejak awal tahun 2009, mungkin menciptakan saya sebagai orang yang “Tangguh” dalam berbagai kondisi dan keadaan. Termasuk dalam menghadapi berbagai fenomena kehidupan. Meski sudah berada pada profesi lian, namun semangat untuk terus menulis fakta kenyataan tetap menyatu dan harus tetap terbangun dalam hati sanubari insan pers yang tetap melekat pada jiwa seorang jurnalis.
Lahirnya media Harian Pendidikan ini, berawal dari cerita obrolan warung kopi bersama seorang rekan Bernama Deferi Zan, yang memang sudah dikenal sebagai ketua Komite Wartawan Indonesia Perjuangan(KWI-P), entah pecahan dari PDI-Perjuangan, atau apalah, tak faham betul saya soal itu. Tapi yang jelas Deferi Zan itu, CEO media Gerbang Sumatera dan memang mendedikasikan diri untuk kegiatan keumatan dalam bidang Jurnalistik.
Dia bilang ke saya, apa kesibukan sekarang bro. Saya cuma bisa nyengir, dan bilang sudah nggak di media lagi kong, soalnya waktu terakhir tahun 2023 saya diminta untuk pilih terus jurnalistik atau mau kerja lainnya. “Itu kata GM Radar Kotabumi, Taufik Wijaya kepada saya, saat itu, saya masih menjabat sebagai Pimpinan Redaksi di Radar Kotabumi.” Kata saya.
Obrolan berlanjut, menurut Deferi Zan, jika tetap di media tapi formatnya ikut mempromosikan berbagai kegiatan dan program pemerintah kan nggak jadi persoalan bro. Saya jawab, tugas wartawan itu untuk mengkritik kinerja pemerintah dalam pelaksanaan berbagai program dan kebijakan. Tersadar itu, saya berpikir media mesti menjadi katalisator, bukan hanya bisa mengkritik, tapi juga memberikan solusi terbaik untuk berbagai program pembangunan.”Bukan hanya Bottom -Up, tapi juga Top Down”, entah apa maknanya gak faham banget saya.
“Tapi yang jelas kita harus berharga bagi orang lain, maupun masyarakat luas. Kita harus jadi kontrol sosial”, timpal Deferi. Dalam hati saya, masuk akal juga masukan pak Deferi ini.
“Sebenarnya, kerjaan itu harus fokus, apalagi di media. Kalau nggak fokus yang ada tumpang tindih bro,” lanjut dia, sambil menyeruput kopi yang sudah hampir tinggal ampasnya.
“Tapi kalau kita fokus mudah-mudahan apa yang kita niatkan tercapai. Ada program pemerintah yang sudah menghabiskan APBN dengan nilai fantastis bahkan sampai ratusan triliun rupiah, untuk membangun generasi muda dalam bidang pendidikan. Para pelajar di sekolah negeri/swasta hingga universitas, kalau sampai tidak terkontrol kan gawat. Negara anggaran buat sekolah yang ada sekolahnya leyeh-leyeh,” imbuh CEO Gerbang Sumatera ini,
Aku membatin, masuk akal juga yang dibilang sama Pak CEO ini. “Wah solusinya gimana bro? ,” tanya ku setengah serius.
“ Ya kita buka media yang fokus dengan dunia Pendidikan, selain sebagai kontrol sosial, kita turut serta membangun dan mensukseskan pelaksanaan Pendidikan. Kita bicara Kabupaten Lampung Utara aja dulu. Kita kontrol, supaya pendidikannya anak-anak kita bisa maksimal dan menikmati program pemerintah. Bukannya program turun ternyata yang kayaraya malah gurunya, kepala sekolahnya. Kan Berabe Jadinya.”serius Deferi.
Dari obrolan itu, lahirlah pemikiran bahwa dunia Pendidikan ini harus diawasi, bukan hanya oleh Aparat Penegak Hukum(APH), Aparat Pengawasan Intern Pemerintah(APIP) atau pihak lainnya. Tapi juga oleh masyarakat sebagai penerima manfaat program pemerintah termasuk media sebagai penyampai informasi baik secara buttom-up, maupun top-down.
Semoga dengan lahirnya media Harian Pendidikan ini, menjadi kontrol sosial demi terciptanya Pendidikan berkualitas, bermutu tinggi dan bisa berkontribusi negeri ini. Melalaui sekolah, civitas akademik perguruan tinggi, masyarakat tetap mengawasi demi kemajuan generasi penerus bangsa ….Aminnnnn











